Berita dari negeri seberang ini membikin dahi aku berkernyit saat membacanya. Saya kira hal ini perlu saya angkat disini sebagai bahan renungan atau apalah bahan diskusi mengenai masalah-masalah transplantasi organ manusia.
cerita lengkapnya ada di surya online:
"Suami Minta Kembali Ginjalnya Gara-gara Istri Selingkuh"
Long Island | SURYA Online-Dokter Richard Batista tergolong suami yang sangat mencintai istrinya. Buktinya, ketika sang istri, Dawnell, sakit dan membutuhkan ginjal, iapun memberikan ginjalnya. Batista rela menyumbangkan satu ginjalnya demi keselamatan istrinya.
Namun, kisah cinta itu telah berakhir. Batista sangat berang ketika mengetahui istrinya berselingkuh. Rumah tangga yang dibangun cukup lama akhirnya berantakan. Mereka akhirnya cerai.
Batista benar-benar marah. Ia lalu memberi ultimatum kepada sang istri. Dawnell harus membayar ganti rugi sebesar 1,5 juta dolar AS (sekitar Rp 16,5 miliar) atau mengembalikan ginjal.
“Tidak ada yang lebih pedih selain dikhianati orang yang sangat Anda cintai. Saya sudah menyelamatkan nyawanya. Tapi kepedihan ini tak terkatakan,” ujar Batista.
Batista menuduh istrinya membalas kebaikannya dengan pengkhianatan.
Pertama, Dawnell berselingkuh dengan terapis fisiknya, kedua, menutup akses pertemuan Batista dengan anak-anak mereka, yang masing-masing berusia 14, 11, dan 8 tahun.
Menanggapi kasus itu, Direktur Sekolah Kedokteran Wisconsin Dr David Cronin mengatakan, organ tubuh manusia tidak bisa dihargai.
“Setiap upaya penjualan organ tubuh selalu digagalkan. Donor organ tubuh seperti kontrak yang menyatakan bahwa pedonor setuju memberikan organnya kepada penerima tanpa imbalan apapun,” jelas Cronin yang menganggap perseteruan Batista Dawnell seperti ‘kisah sinetron’.
========================
apa mau dikata, kisah cinta, kesetiaan, pengkhianatan merupakan cerita yang tak ada akhirnya di dunia. Ibarat pepatah Air susu dibalas air tuba.
Tetapi bagaimanapun upaya untuk donor organ adalah upaya mulia untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang membutuhkan. dimulai dari niat yang mulia, tak mengharapkan apapun dari orang yang menerima. Bagaimana pendapat anda?
Tampilkan postingan dengan label cuplikan berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuplikan berita. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Januari 2009
Kamis, 08 Januari 2009
Kedewasaan pikiran anak-anak
Cita-cita anak kecil sekarang mungkin udah berubah, kalo dulu ditanya apa cita-citanya besok kalo udah besar? pengin jadi dokter, tentara, hakim, pengacara, penulis, polisi, pilot, wartawan, presiden, dllnya, bisa jadi berubah pengin nikah dini aja secepatnya!
Apa mau dikata dunia sudah berubah jadi kotak ya?
kalo Indonesia baru aja dihebohkan dengan pernikahan ustadz puji, dibelahan dunia yang lain dihebohkan juga adanya berita:
HANOVER - Ini salah satu bukti betapa bocah sekarang makin cepat matang secara psikologis. Salah satu faktor pemicunya adalah tayangan audiovisual yang bebas mereka saksikan kapan saja dan di mana saja. Mika dan Anna Lena merupakan anak Jerman yang masing-masing baru berusia 7 dan 6 tahun.
Tanpa sepengetahuan orang tua, mereka nekat hendak kabur ke Afrika untuk kawin lari. Bahkan, mereka mengajak bocah lain berusia 5 tahun yang akan berperan sebagai saksi pernikahan. Benarkah? Itulah pengakuan mereka ketika ditanya petugas keamanan stasiun kereta api yang rencananya ditumpangi menuju bandara.
Misi romantis sepasang kekasih cilik itu muncul begitu saja setelah mereka menonton film dokumenter tentang Afrika pada malam tahun baru lalu bersama keluarga. Mika dan Anna memang tinggal satu rumah sejak ayah Mika dan ibu Anna memutuskan hidup bersama serta pindah ke rumah baru di Hanover, Jerman, beberapa waktu lalu.
''Dari (film) itu, mereka lalu merancang rencana untuk masa depan,'' kata Juru Bicara Polisi Hanover, Holger Jureczko.
Bayangan indahnya menikah di bawah sinar mentari Benua Afrika turut menari-menari di benak dua bocah itu. Wajar saja karena Jerman masih diselimuti salju tebal akibat musim dingin. Menjelang berangkat, dua bocah itu membujuk adik Anna Lena, Anna Bell, untuk ikut serta sebagai saksi. Dasar sama-sama bau kencur, Anna Bell hooh saja mengikuti pasangan cilik yang lagi kasmaran itu.
Begitu fajar hari pertama 2009 menyingsing, tiga bocah tersebut mengendap-endap keluar rumah. Ketika itu, kedua orang tua mereka masih tidur nyenyak di kamar. Mereka tak lupa membawa perlengkapan perjalanan, seperti kacamata hitam, celana renang, pakaian musim panas, dan sandwich. Persis seperti kaum backpacker yang hendak merencanakan petualangan panjang menjelajahi negeri.
Lolos dari pantauan orang tua, mereka berjalan kaki menantang dingin sejauh 1,5 kilometer menuju halte trem. Sesampai di tujuan, mereka duduk manis menunggu kereta dengan tujuan bandara yang jaraknya sekitar 50 kilometer. Kehadiran mereka, apalagi tak tampak didampingi orang dewasa, mengundang kecurigaan petugas setempat. Petugas itu lalu menghubungi polisi lokal. Tak lama berselang, dua polisi datang dan menghampiri mereka.
Dengan nada bersahabat, polisi bertanya kepada bocah-bocah lugu tersebut. Begitu tahu tiga bocah itu hendak terbang ke Afrika, polisi tersenyum geli. Petugas keamanan tersebut lalu mengatakan, mereka tak mungkin bisa melakukan perjalanan sejauh itu tanpa uang dan tiket pesawat. ''Mereka lalu menurut ketika dijanjikan minuman panas dan sarapan,'' kata Jureczko.
Untuk menyenangkan hati anak-anak tersebut, polisi mengajak mereka jalan-jalan dengan mobil tahanan. Sambil menikmati perjalanan, polisi menasihati, ''Kalian bisa melanjutkan rencana (menikah) itu jika sudah dewasa.'' Orang tua mereka lalu datang menjemput di stasiun dan membawanya pulang. (ape/ami)
Apa mau dikata dunia sudah berubah jadi kotak ya?
kalo Indonesia baru aja dihebohkan dengan pernikahan ustadz puji, dibelahan dunia yang lain dihebohkan juga adanya berita:
Bocah Nekat Kawin Lari ke Afrika
Jawa Pos, Rabu 7 Januari 2009
Jawa Pos, Rabu 7 Januari 2009
Tanpa sepengetahuan orang tua, mereka nekat hendak kabur ke Afrika untuk kawin lari. Bahkan, mereka mengajak bocah lain berusia 5 tahun yang akan berperan sebagai saksi pernikahan. Benarkah? Itulah pengakuan mereka ketika ditanya petugas keamanan stasiun kereta api yang rencananya ditumpangi menuju bandara.
Misi romantis sepasang kekasih cilik itu muncul begitu saja setelah mereka menonton film dokumenter tentang Afrika pada malam tahun baru lalu bersama keluarga. Mika dan Anna memang tinggal satu rumah sejak ayah Mika dan ibu Anna memutuskan hidup bersama serta pindah ke rumah baru di Hanover, Jerman, beberapa waktu lalu.
''Dari (film) itu, mereka lalu merancang rencana untuk masa depan,'' kata Juru Bicara Polisi Hanover, Holger Jureczko.
Bayangan indahnya menikah di bawah sinar mentari Benua Afrika turut menari-menari di benak dua bocah itu. Wajar saja karena Jerman masih diselimuti salju tebal akibat musim dingin. Menjelang berangkat, dua bocah itu membujuk adik Anna Lena, Anna Bell, untuk ikut serta sebagai saksi. Dasar sama-sama bau kencur, Anna Bell hooh saja mengikuti pasangan cilik yang lagi kasmaran itu.
Begitu fajar hari pertama 2009 menyingsing, tiga bocah tersebut mengendap-endap keluar rumah. Ketika itu, kedua orang tua mereka masih tidur nyenyak di kamar. Mereka tak lupa membawa perlengkapan perjalanan, seperti kacamata hitam, celana renang, pakaian musim panas, dan sandwich. Persis seperti kaum backpacker yang hendak merencanakan petualangan panjang menjelajahi negeri.
Lolos dari pantauan orang tua, mereka berjalan kaki menantang dingin sejauh 1,5 kilometer menuju halte trem. Sesampai di tujuan, mereka duduk manis menunggu kereta dengan tujuan bandara yang jaraknya sekitar 50 kilometer. Kehadiran mereka, apalagi tak tampak didampingi orang dewasa, mengundang kecurigaan petugas setempat. Petugas itu lalu menghubungi polisi lokal. Tak lama berselang, dua polisi datang dan menghampiri mereka.
Dengan nada bersahabat, polisi bertanya kepada bocah-bocah lugu tersebut. Begitu tahu tiga bocah itu hendak terbang ke Afrika, polisi tersenyum geli. Petugas keamanan tersebut lalu mengatakan, mereka tak mungkin bisa melakukan perjalanan sejauh itu tanpa uang dan tiket pesawat. ''Mereka lalu menurut ketika dijanjikan minuman panas dan sarapan,'' kata Jureczko.
Untuk menyenangkan hati anak-anak tersebut, polisi mengajak mereka jalan-jalan dengan mobil tahanan. Sambil menikmati perjalanan, polisi menasihati, ''Kalian bisa melanjutkan rencana (menikah) itu jika sudah dewasa.'' Orang tua mereka lalu datang menjemput di stasiun dan membawanya pulang. (ape/ami)
Et Causa Kematian Korban di Palestina dibiarkan Kosong
Jawa Pos, Rabu 7 Januari 2009 hal 15.
Cuplikan Berita:
Raed Arini, seorang petugas di Rumah Sakit Shifa, menyatakan dirinya sudah berhenti mengisi kolom ''sebab-sebab kematian pasien'' dalam lembaran rekam medis. ''Sebab-sebab kematian adalah tentara Israel,'' kata Arini sebelum bergegas menyambut kembali kedatangan para korban luka-luka bersama sejumlah petugas medis lainnya.
Cuplikan Berita:
Raed Arini, seorang petugas di Rumah Sakit Shifa, menyatakan dirinya sudah berhenti mengisi kolom ''sebab-sebab kematian pasien'' dalam lembaran rekam medis. ''Sebab-sebab kematian adalah tentara Israel,'' kata Arini sebelum bergegas menyambut kembali kedatangan para korban luka-luka bersama sejumlah petugas medis lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)